Site icon Yolo Trip Adventure

Destinasi Alternatif Di Pulau Sumbawa Yang Mempesona

Liburan di Sumba menawarkan pengalaman bertualang di alam yang menakjubkan, dan juga peluang untuk merasakan budaya lokal yang unik dan khas. Sesuai untuk kamu yang menggemari perjalanan petualangan yang menantang. Walaupun sarana dan infrastruktur masih sederhana, tidak membatasi wisatawan untuk mengunjunginya.

Berikut beberapa tempat wisata budaya yang dapat kamu kunjungi untuk memanjakan mata di Pulau Sumba dikala musim hujan tiba, di antaranya:

1. Kampung Adat Ratenggaro

Kampung tradisional Ratenggaro merupakan yang paling tenar di Pulau Sumba. Kampung yang berada di Desa Umbu Ngedo di Kabupaten Sumba Barat Daya punyai tempat tinggal kebiasaan yang punyai atap yang berbeda tingginya. Bergantung pada tinggi atap rumah, bisa mencerminkan standing sosial seseorang yang mencukupi. Selain itu, Kampung Adat Ratenggaro juga punyai kuburan batu dari zaman Megalitikum yang disusun bersama dengan rapi di lebih kurang kampung tersebut.

Masyarakat Ratenggaro punyai prinsip yang kuat didalam mobilisasi kebiasaan dan tradisi nenek moyang mereka, di antaranya adalah melarang wisatawan gunakan kain tenun dari desa lain ketika berkunjung ke mereka. Selain itu, yang menarik lagi, desa ini berada di pinggir pantai dan hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk mencapai Pantai Ratenggaro. Apabila suasana cuaca tengah cerah, Kamu bisa menghabiskan waktu di pantai untuk bermain air dan menikmati keindahannya sesudah berjalan-jalan di lebih kurang desa.

2. Kampung Tarung

Kampung Tarung terdapat di, Kecamatan Kota Waikabubak, tidak sangat jauh dari pusat kota. Meskipun terdapat di tempat dataran tinggi, tapi akses ke kampung ini sangatlah mudah. Rumah-rumah warga tetap mengusung gaya tradisional dan mengarah ke arah barat dan juga timur. Menariknya, tiap-tiap tempat tinggal punyai hiasan-hiasan seperti tanduk kerbau dan rahang babi yang digantung sebagai lambang standing pemilik rumah.

Jumlah tanduk yang ada mencerminkan kuantitas acara yang telah diadakan, jadi tinggi pula posisi sosial tuan rumah. Kamu juga punyai peluang untuk mengamati bersama dengan detil sisa-sisa zaman Megalitikum yang dijaga bersama dengan baik, seperti makam batu yang dilengkapi bersama dengan patung, monumen batu, dan batu tegak. Masyarakat lokal di Kampung Tarung sangat bersahabat, mereka bersama dengan gembira dapat mengutarakan tiap-tiap detil cerita di desa ini.

3. Kampung Adat Praijing

Salah satu tujuan wisata yang tenar di Sumba Barat adalah Kampung Praijing, sebuah kampung kebiasaan yang terkenal. Terletak di Desa Desbara, Waikabubak, kampung ini hanya berjarak 4 kilometer dari Kampung Tarung, agar anda bisa singgah sekaligus jikalau belum mulai lelah. Di Kampung Praijing, terkandung tempat pemandangan yang terlalu mungkin pengunjung untuk lihat dan mengambil alih foto seluruh kampung bersama dengan latar belakang bukit yang dipisahkan oleh sebuah jalan.

4. Kampung Adat Praigoli

Kampung kebiasaan Praigoli merupakan tempat tinggal dari suku Praigoli, sebuah kelompok masyarakat asli Sumba yang tinggal di pedalaman lokasi Kecamatan Wanokaka. Tempat kampung kebiasaan ini terdapat lumayan jauh dari pusat kota, agar para pengunjung perlu melalui perjalanan yang lumayan lama. Suku Praigoli bersama dengan teguh melindungi dan melestarikan tradisi dan juga budaya mereka tanpa terpengaruh oleh perkembangan zaman. Termasuk pekerjaan yang semuanya terkait pada sumber kekuatan alam.

5. Kampung Adat Bodo Ede

Kampung Adat Bodo Ede berlokasi dekat Kota Waikabubak, tepatnya di lokasi Kecamatan Loli. Kampung ini kerap disebut sebagai Tadulla Bodo Ede Takoula Kadu Watu, yang mengacu pada letak batu berwujud manusia bersama dengan tanduk di sini. Dapat diambil kesimpulan juga sebagai lokasi pengawasan yang terdapat di ketinggian. Kawasan Bodo Ede dihuni oleh suku Wee Bole, yang mayoritas berprofesi sebagai penenun atau petani yang dipimpin oleh seorang Moto Lele. Jika anda singgah ke tempat ini, anda dapat mendapatkan sebuah bangunan tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu, yang jadi bukti bahwa masyarakat di sini tetap pelihara tradisi tersebut.

6. Taman Nasional Manupeu Tanah Daru

Taman wisata Sumba yang satu ini adalah hasil dari penggabungan sebagian hutan, seperti rimba Lindung Manupeu bersama dengan luas 9.500 hektar dan Cagar Alam Langgaliru bersama dengan luas 24.750 hektar. Lalu, terkandung rimba Produksi Terbatas Praingpalindi-Tanadaru bersama dengan luas 10.534 hektar dan rimba Lindung Tanadaru-Praimamongutidas bersama dengan luas 43.750 hektar.

Taman Nasional punyai luas total lebih kurang 88 ribu ha, dan berlokasi di tiga kabupaten yaitu Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Dengan ketinggian lebih kurang 600 mtr. di atas permukaan laut, taman ini jadi tempat tinggal bagi tumbuhan dan hewan yang hanya bisa ditemukan di Pulau Sumba. Sebagai contoh, sebagian type tumbuhan seperti cemara gunung, kesambi, dan kemiri, dan juga sebagian type burung seperti punai Sumba, sikatan Sumba, dan madu Sumba. Saat berkunjung ke taman ini, anda juga berkesempatan untuk menikmati keindahan alam.

Salah satu perihal yang bisa dinikmati adalah mencermati pemandangan luas dari lapangan hijau di tanah savana, yang diperindah bersama dengan keberadaan alang-alang di sebagian tempat. Di sini terlihat adanya kelompok kuda yang tengah berlarian atau makan rumput. Lokasi wisata lain yang bisa dikunjungi adalah Goa Kanawabulung, yang terdapat di desa Kambata Wundut. Di sana, pengunjung bisa menikmati keindahan stalaktit dan pemandangan alam yang menakjubkan. Selain terkandung dataran luas yang tandus dan juga gua-gua, terkandung juga dua curahan air alami yang terdapat di tempat ini. Curahan air pertama adalah Air Terjun Lapopu, namun curahan air ke-2 adalah Air Terjun Matayangu. Sayangnya, air terjun ini condong keruh waktu musim hujan agar kurang direkomendasikan untuk mengunjunginya. https://pulivetv16.com/

7. Festival Wulla Poddu

Festival Wulla Poddu (Bulan Pahit) diselenggarakan dari awal Oktober hingga akhir November, oleh hampir seluruh desa kebiasaan di Sumba Barat. Proses di awali pada pagi hari bersama dengan mengisahkan cerita leluhur nenek moyang orang Sumba. Setelah itu, pusaka tombak tradisional diangkat oleh orang-orang terpilih di atas batu kubur kuno, dan penari-penari tampil bersama dengan mengayunkan tombak dan parang.

Acara berlanjut bersama dengan kesibukan berburu babi hutan, di mana keberhasilan panen ditentukan oleh hasil buruan pertama. Salah satu acara lainnya adalah upacara sunatan yang dilaksanakan untuk remaja laki-laki. Beberapa hari kemudian, para remaja tersebut dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan disendikan ke alam liar sebagai cara untuk membantu mereka mengembangkan kemandirian dan perkembangan menuju kedewasaan. Saat hari festival mendekati akhir, pada waktu matahari terbenam, orang tua kebiasaan memberikan puisi tentang sang pencipta, dunia dan juga umat manusia.

8. Festival Pasola

Pada bulan Februari atau Maret, terkandung festival Pasola yang telah jadi acara yang familiar bagi wisatawan dari luar negeri dan juga masyarakat setempat. Setiap tahun, lokasi festival ini berbeda-beda di Kabupaten di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya agar tidak ada tempat selamanya untuk festival ini. Festival Pasola adalah sebuah acara tradisional yang melibatkan pertempuran pada dua kampung gunakan kuda dan senjata kayu tumpul.

Pada festival ini, terkandung pertunjukan keahlian yang memperlombakan pertarungan, jadi banyak cedera yang dialami ksatria waktu Pasola, dipercayai dapat mempunyai hasil panen yang melimpah. Pasola merupakan perayaan yang jadi klimaks dari serangkaian tradisi Nate atau Nyale. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat yang mobilisasi keyakinan Marapu, yang merupakan agama yang dipercayai oleh masyarakat asli Sumba. Pada perayaan ini, masyarakat melakukan pemujaan dan menambahkan persembahan kepada Marapu.

Exit mobile version